Motif hiasan yang memiliki bentuk dasar segitiga sama kaki dan sering diaplikasikan sebagai hiasan pinggir pada kain batik adalah motif Parang. Motif Parang merupakan salah satu motif klasik yang populer dan memiliki beragam variasi dalam seni batik di Indonesia, terutama di Jawa.

Sejarah dan Filosofi Motif Parang

Motif Parang berasal dari Kerajaan Mataram Hindu dan kemudian berkembang di masa Kerajaan Mataram Islam. Kata “Parang” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti pedang atau golok, dan motif ini melambangkan semangat ksatria, keberanian, dan kekuasaan. Bersama motif Kawung, Ceplok, dan Nitik, motif Parang termasuk dalam kategori batik dengan pola-pola geometris yang tertata rapi.

Baca Artikel Lainnya  Memberi Pinjaman kepada Bank dalam Bentuk Fasilitas Kredit Likuiditas Darurat Merupakan Peranan Bank Sentral Sebagai

Motif ini memiliki filosofi bahwa seorang pemimpin atau penguasa harus memiliki semangat yang kuat seperti sebuah golok yang tajam demi menjaga dan melindungi rakyatnya.

Variasi Motif Parang

Motif Parang memiliki beragam variasi yang dapat ditemukan dalam kain batik, seperti:

  1. Parang Rusak: Motif ini dianggap sebagai bentuk yang paling tua dan paling klasik dari motif Parang. Parang Rusak memiliki pola segitiga dengan garis lurus yang tajam.
  2. Parang Kusumo: Kusumo berarti bunga dalam bahasa Jawa dan motif ini memiliki pola segitiga dengan ujung yang melengkung seperti bunga.
  3. Parang Curigo: Pola yang terdiri dari segitiga dengan gerigi di sisi-sisinya, seperti bentuk gigi, melambangkan kehalusan budi pekerti dan ketekunan.
  4. Parang Klithik: Motif yang memiliki pola bilah pedang yang lebih kecil dan berjarak lebih dekat satu sama lain, menciptakan efek visual yang dinamis.
  5. Parang Barong: Menampilkan bentuk segitiga yang melengkung dengan beberapa tambahan ornamen dalam polanya, seperti tumpal atau bunga.
Baca Artikel Lainnya  Jelaskan Posisi Perjuangan yang Dilakukan oleh Rakyat Papua dalam Menghadapi Kolonial Belanda

Penutup

Motif Parang merupakan motif batik yang kaya akan sejarah, filosofi, dan variasi. Penggunaan motif ini sebagai hiasan pinggir pada kain batik tidak hanya menambah keindahan estetika, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya yang mendalam.